KABINET OLYMPUS
LOADING...
Selamat Datang Mahasiswa Baru Jalur SPAN-PTKIN di Universitas Islam Negeri Syekh Wasil. Jangan lupa isi pendataan mahasiswa baru yaaa!

Kekerasan seksual, borok kampus yang tersembunyi?


KEMENKASTRAT - Kampus sebagai bagian dari dunia pendidikan sering kali diagungkan sebagai pusat intelektualitas, tempat persemaian nilai-nilai kemanusiaan, dan ruang aman bagi tunas bangsa untuk bertumbuh. Namun, dibalik megahnya gedung dan hiruk pikuk diskusi akademis di tiap sudutnya, terdapat realita kelam yang kerap tertutup, yakni kekerasan seksual.

Fenomena kekerasan seksual menjadi borok yang meradang di dalam instansi pendidikan. Tidak nampak bukan berarti tidak ada, melainkan apakah dipaksa untuk tersembunyi dan tidak terlihat?

Ketimpangan relasi kuasa menjadi penyebab tersembunyinya borok ini. bagaimana tidak, hierarki kelas yang bertingkat-tingkat kerap kali disalahgunakan. Predikat akademis dan sosial di lingkungan warga kampus yang tinggi sering digunakan sebagai perisai bagi pelaku untuk mengintimidasi korban. 

Sehingga korban seringkali berada di dalam labirin keheningan. Ancaman nilai, kelulusan, hingga stigma sosial yang menyalahkan gaya berpakaian dan kepulangan yang larut dihadapi oleh para korban. Akibatnya, banyak perkara yang berakhir pada meja kompromi atau menjadi bisik-bisik di kantin dan setiap sudut pertemuan warga kampus. 

Belakangan, jagat media sosial diguncang kejadian serupa, kejadian yang terpantik dari tweet dari @sampahfhui beberapa hari lalu. Ironisnya pelaku yang berjumlah 16 orang ini adalah mahasiswa hukum yang secara idealnya di kemudian hari akan menjadi penegak hukum. Meskipun yang tengah ramai bukanlah tindakan mereka secara langsung, namun isi percakapan di dalam grub chat secara gamblang terdapat banyak kata atau kalimat yang merendahkan lawan jenis para pelaku. 

Lebih ironi pula, para pelaku terafiliasi jabatan di dalam organisasi kemahasiswaan, dan merasa aman atas yang mereka lakukan sebab merasa berkuasa. Ini menjadi bukti keserampangan dari penggunaan kekuasaan dalam memproduksi bayang-bayang ketakutan untuk menutupi perbuatan bejat tersebut.

Tentunya, berbagai bentuk kekerasan tidaklah dapat dibenarkan, akan tetapi pembiaran dan pelanggengannya akan berdampak luas, dan pelaku akan tambah bengis. Korbanpun juga semakin tersesat dalam labirin keheningannya.

Tulisan ini dibuat sebagai refleksi dan perenungan kita bersama, dan bukan bermaksud mengabarkan tangah ada kejadian serupa di kampus UIN Syekh Wasil Kediri. Namun, jika menengok kebelakang kekerasan seksual juga pernah terjadi di kampus yang kala itu masih bernama IAIN Kediri. Kejadiannya hampir serupa yang melibatkan hubungan hierarkis, pelaku yang kala itu memiliki jabatan yang stategis memperoleh pencopotan dan skorsing selama kurun waktu tertentu. 

Peristiwa ini menjadi kewaspadaan dalam dunia pendidikan, secara khusus kampus yang berbasis nilai keislaman. Dengan berkaca kasus yang pernah terjadi, lantas kejadian serupa apakah masih langgeng terjadi dan cenderung ditutupi?


Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak