KEMENFOKOM DEMA U – Suasana khidmat menyelimuti Aula Gedung Rektorat UIN Syekh Wasil Kediri siang ini. Sorot mata penuh harap dan semangat pembaharuan mewarnai prosesi sakral pelantikan jajaran pengurus Senat Mahasiswa (SEMA) dan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) periode 2025. Di bawah panji almamater, Rektor UIN Syekh Wasil, Prof. Dr. H. Wahidul Anam, M.Ag, secara resmi mengukuhkan para aktivis muda yang siap menahkodai gerakan mahasiswa satu tahun ke depan.
Pelantikan kali ini bukan sekadar seremonial rutin, melainkan tonggak sejarah. Mengusung tema besar "Simfoni Perjuangan: Menyelaraskan Langkah dalam Perbedaan, Menguatkan Tekad dalam Kebebasan," acara ini menjadi simbol transisi monumental.
Dalam amanatnya, Prof. Wahidul Anam menegaskan bahwa kepengurusan ini memikul mandat istimewa sebagai "angkatan perintis" pasca-peralihan status kelembagaan dari IAIN menjadi UIN.
"Kepengurusan tahun ini adalah ujung tombak kemajuan UIN Syekh Wasil Kediri menuju Universitas yang unggul dalam skala Internasional," tegas Rektor dengan penuh semangat, menitipkan harapan agar ormawa menjadi katalisator reputasi global kampus.
Semangat kritis langsung menyeruak ketika Ketua SEMA terpilih, Achmad Fawaid, menyampaikan orasi perdananya. Ia menyoroti tantangan terbesar aktivis hari ini: menjaga konsistensi antara menara gading intelektual dengan realitas sosial.
"Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat... maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali," ujar Fawaid, mengingatkan agar mahasiswa tidak teralienasi dari rakyat.
Senada dengan semangat tersebut, Ketua DEMA Universitas, Sabilul Haq, tampil dengan narasi yang menukik lebih dalam pada aspek filosofis dan tanggung jawab historis. Dalam sambutannya, Sabilul menolak terjebak pada eforia simbolik semata.
"Kabinet kami secara formal adalah DEMA UIN Syekh Wasil angkatan pertama. Namun, hal ini bukan hanya untuk simbolik kebanggaan saja, melainkan membawa tanggung jawab yang jauh lebih besar dalam peningkatan kualitas gerakan," ungkap Sabilul di hadapan civitas akademika.
Sabilul Haq juga membawa diskursus keagamaan ke level yang lebih kritis. Merespons realitas sosial di mana agama kerap dikomodifikasi, ia mengutip pemikiran filsuf Islam kontemporer, Ali Shariati. Sabilul menegaskan bahwa DEMA UIN Syekh Wasil berkomitmen menjadikan nilai religius sebagai landasan kerja yang membebaskan, bukan membelenggu.
"Melihat realitas sosial sekarang yang memburuk, agama seringkali digunakan untuk memperkaya diri. Ini bertentangan dengan apa yang dijelaskan Ali Shariati, bahwa agama bukanlah alat doktrinasi semata tetapi sebagai alat pembebasan (rakyat tertindas)," tegas Sabilul dengan lantang.
Ia menekankan bahwa program kerja DEMA ke depan tidak akan lepas dari khazanah keilmuan religius yang dikontekstualisasikan untuk kesejahteraan mahasiswa dan kebermanfaatan masyarakat luas, baik regional maupun nasional.
Pelantikan ini ditutup dengan semangat kolektif yang membara. Mengutip semangat Tan Malaka, Sabilul Haq mengajak seluruh pengurus untuk berani "memegang jala atau cangkul"—sebuah metafora untuk bekerja konkret dan membaur bersama masyarakat.
Dengan resminya pelantikan ini, layar kapal kepemimpinan mahasiswa UIN Syekh Wasil telah terkembang. Di tengah transisi besar Institusi, SEMA dan DEMA kini dituntut membuktikan janji mereka: menjadi gerakan yang tidak hanya "hidup" di dalam kampus, tetapi juga menghidupkan harapan di tengah masyarakat.

Uwihhhhh Top Global😎😎😎
BalasHapus🔥🔥
Hapus